Sabtu, 02 Juni 2018

Konseling Apoteker Pada Pasien Penyakit TBC

(Disebuah RS)
Dokter                   :  Selamat Siang, dengan saudara siapa dana apa yang anda keluhkan ?
Pasien                    :  Nama saya Ridzal dok, belakangan ini saya batuk disertai dahak dan belum juga sembuh selama 2 minggu lebih. Padahal sudah minum obat batuk dan biasanya sesak nafas sampai-sampai dada merasa nyeri dan belakangan ini sering berkeringat di malam hari.
Dokter                   :  Apakah anda juga tidak nafsu makan ?
Pasien                    :  Iya dok, saya juga lagi kurang nafsu makan.
Dokter                   :  Menurut gejala yang dikeluhkan oleh saudara Ridzal, ini tanda-tanda penyakit Tuberculosis BTA positif. Jadi anda haru melakukan pemeriksaan laboratorium untuk memastikan penyakit yang anda derita.
*Keesokan Harinya …
(Disebuah Apotek RS)
Keluarga Pasien    :  Selamat siang bu. Saya mau menebus resep kakak saya.
Asisten Apoteker  :  Iya, selamat siang (sambil membaca dan menyerahkan resep kepada Apoteker untuk menganalisa resep)
Asisten Apoteker  :  Ibu, sambil menunggu obatnya disiapkan, bias tunggu diruang konseling ? ada yang ingin saya diskusikan (Sambil menunjukkan ruangan konseling)
*Kemudian Apoteker masuk ke ruangan konseling sambil membawa obat yang diresepkan oleh dokter.
(Ruangan Konseling)
Apoteker               :  Silahkan duduk dulu bu, perkenalkan saya mira apoteker di apotek ini. Saya ingin mendiskusikan tentang obat saudara Ridzal.
Keluarga Pasien    :  Selahkan bu.
Apoteker               :  Apa yang dokter katakan mengenai pengobatan saudara Ridzal ?
Pasien                    :  Berdasarkan hasil pemeriksaan, dokter mengatakan kalau saya terkena penyakit Tuberkulosis BTA positif dan bakteri telah menyebar di paru-paru saya. Katanya saya termasuk pasien yang baru terimfeksi Tuberkulosis sehingga dapat disembuhkan asal saya segera memulai pengobatan dan meminum obatnya sesuai intruksi dokter. Saya harus meminum obat selama 2-6 bulan.
Apoteker               :  Oh iya, Apa yang dokter katakana mengenai kegunaan obat-obat yang diberikan ?
Pasien                    :  Kata dokter obat tablet yang diminum untuk memperlambat bahkan memusnahkan bakteri yang terdapat dalam paru-paru saya agar tidak menyebar ke organ tubuh lainnya.
Apoteker               :  Iya, apa yang dokter katakana tentang cara mengguakan obat-obat tersebut ?
Pasien                    :  Saya harus minum tabletnya 3 kali sehari sesudah makan dan tunggu sekitar 30 menitan.
Apoteker               :  Iya, benar sekali apa yang anda sampaikan.
Pasien                    :  Apakah ada efek samping dari obat-obat tersebut ?
Apoteker               :  Oh iya, Anda mungkin akan merasakan gejala seperti tidak nafsu makan, mual, sakit perut, demam, meriang, sakit otot, dan sendi, sakit kepala, sering merasa lelah, kesemutan bahkan urine anda tampak berwarna orange kemerahan.
Keluarga Pasien    :  Apakah efek samping tersebut bias dicegah atau diatasi ?
Apoteker               :  Bisa. Jika efek samping berupa urine yang berwarna orange kemerahan itu merupakan efek samping dari rifampisin, anda tidak perlu khawatir akan warna dari urune tersebut karena itu tidak berarti bahaya apapun hanya berupa buangan dari obat tersebut. Jika mengalami gejala seperti sakit sendi dan otot anda dapat minum Paracetamol, bila perlu. Adapun jika anda merasa tidak nafsu makan, mual dan sakit perut maka anda dapat menggunakan isotiazid, ripanfisin dan piraziramid pada malam hari sebelum tidur, namun jika gejala masih dirasakan dapat meminum obat dengan ditambahkan sedikt makanan. Jika anda merasa sering kesemutan setelah mengkonsumsi obat dapat diatasi dengan meminum piridoksin (Vitamin B6). Adapun jika demam, meriang dan sakit kepala segera konsultasi ke dokter.
Keluarga Pasien    :  Oh begitu. Berarti harus selalu menyiapkan Paracetamol dan Vitamin B6 untuk mengatasi jika mengalami gejal tersebut.
Apoteker               :  Iya benar sekali ibu. Saudara Ridzal masih kuliah atau sudah bekerja ?
Pasien                    :  Sudah bekerja bu.
Keluarga Pasien    :  Memangnya kenpa bu ?
Apoteker               :  Saya menenyakan hal itu untuk membantu anda membuat jadwal maminum obat. Kartunya nanti bias ditempel ditempat yang mudah dilihat, misalnya dipintu kulkas. Karena kepatuhan pasien dalam meminum obat sangat dibutuhkan dalam pengobatan Tuberkulosis ini agar tidak terjadinya resistensi atau kekebalan bakteri terhadap obat yang diberikan.
Keluarga Pasien    :  Iya benar bu. Saudara saya ini memang sering lupa.
Pasien                    :  Bagaimana kalau saya lupa meminum obatnya ?
Apoteker               :  Apabila anda lupa hanya 1 hari atau 1 dosis maka anda dapat tetap melanjutkannya, tetapi apabila anda lupa lebih dari 1 hari atau lebih maka anda harus dating kembali ketempat anda berobat dan menanyakan apa yang harus anda lakukan, dokter akan melakukan pemeriksaan dan memutuskan apa yang harus dilakukan.
Keluarga Pasien    :  Bu, bagaimana dengan penularannya Tuberkulosis yang diderita saudara saya ?
Apoteker               :  Iya bu, untuk penularannya sendiri penyakit Tuberkulosis ini dapat menular lewat udara yang mengandung percikan dahak, batuk atau bersin penderita. Jadi sebaiknya saudara ridzal harus menggunakan masker ketika keluar atau didalam rumah.
Pasien                    :  Seberapa besar peluang saya untuk sembuh dari Tuberkulosis setelah pengobatan ?
Apoteker               :  Jika pasien memiliki ketekunan dan ketepatan dalam mengkonsumsi obat kemudian melakukan pemeriksaan seperti yang sudah dokter jadwalkan maka anda akan dapat sembuh. Anda harus menjalani pengobatan selama 6 bulan tanpa putus dan obat yang diresepkan ini untuk 2 bulan. Sebelum obatnya habis anda harus kembali konsultasi kedokter lagi.
Keluarga Pasien    :  Dengarkan apa yang dikatakan apoteker, jangan sampai lupa untuk meminum obatnya.
Pasien                    :  Saya senang mendengar peluang untuk dapat sembuh.
Apoteker               :  Saudara Ridzal, supaya saya yakin tidak ada informasi yang terlewatkan boleh diulangi apa yang sudah saya sampaikan tadi ?
Pasien                    :  Iya bu, Saya harus minum semua tabletnya 3 kali sehari sesudah makan. Terus bila warna urine saya kemerahan tidak perlu khawatir. Jika mengalami gejala seperti sakit pada otot dan sendi dapat minum paracetamol, bila perlu. Adapun jika anda merasa tidak nafsu makan, mual dan sakit perut maka saya dapat menggunakan obat isoniazid, rifampisin dan pirazinamid pada malam hari sebelum tidur, namun jika gejala masih dirasakan dapat meminum obat dengan ditambahkan sedikit makanan. Jika saya merasa sering kesemutan setelah mengkonsumsi obat dapat diatasi dengan meminum piridoksi (Vitamin B6).
Apoteker               :  Iya benar, yang paling penting saudara Ridzal harus patuh, selalu tepat minum obatnya agar pengobatan berhasil. Apakah ada yang ingin ditanyakan kembali ?
Pasien                    :  iya bu, terima kasih atas informasi yang diberikan. Ini sangat membantu saya untuk pengobatan.
Apoteker               :  Itu sudah menjadi tanggung jawab saya sebagai apoteker untuk membantu anda dalam menjalani pengobatan. Jika ada hal-hal yang nantinya ingin ditanyakan, ini kartu nama saya ada nomor kontak yang bias dihubungi.
Pasien                    :  Iya bu, ini akan sangat membantu. Terima kasih.
Apoteker               :  Iya sama-sama. Semoga cepat sembuh.

Sumber dari :
-          https://www.scribd.com/document/342230594/CONTOH-KONSELING-PASIEN-TB

Sabtu, 20 Juni 2015

Laporan Pembuatan Sabun dari bahan Susu Sapi

Topik               : Pembuatan Sabun dari bahan Susu Sapi
Tujuan             : Untuk mengetahui proses pembuatan Sabun dari bahan Susu
Hari/Tanggal   : Rabu, 10 Desember 2014
Tempat            : Laboratorium Kimia SMK WIRAKARYA 2

I. Alat dan Bahan:
  Alat: 
  • Gelas Kimia 
  • Gelas Ukur 
  • Batang Pengaduk 
  • Pipet Tetes 
  • Kawat kasa dan Kaki tiga 
  • Pembakar spiritus 
  • Air/Aquades
  Bahan: 
  • Minyak Zaitun 30 ml 
  • Minyak Kelapa 35 ml 
  • Mentega putih 80 gram 
  • Susu Sapi 80 ml 
  • NaOH/Soda Api 20 gram (larut dalam 80 ml air) 
  • Bibit Parpum Melati (bisa diubah sesuai dengan selera) 
  • Asam Stearat (bisa diubah jika diLaboratorium tidak tersedia) 1 gram (larut dalam 10 ml)


II. Prosedur 
1. Masukkan Minyak kelapa, Minyak zaitun dan Mentega putih kedalam gelas kimia. Jangan dipaksa mentega putih ini untuk cepat lumer atau cair, biarkan mencair dengan sendirinya dan tentunya butuh waktu agak lama untuk memperoleh hasil tersebut,
2. Sambil menunggu mentega putih mencair, kita lanjut dengan fase berikutnya yaitu proses saponisasi antara susu Sapi dan NaoH/Soda api, 
3. Larutkan terlebih dahulu NaoH 20 gram kedalam air sebanyak 80 ml. Jika menggunakan Soda api langsung larutkan dengan Susu sapinya,
4. Siapkan gelas kimia yang berisi susu Sapi ,kemudian masukkan NaOH yang sudah dilarutkan/soda api sedikit demi sedikit. Aduk secara rata dan pelan-pelan, dan NaOH/Soda api pun akan bereaksi dengan Lemak dari susu Sapi, 
5. Setelah itu, mentega putih tadi sudah mencair, angkat larutan mentega putih tadi kemudian tuangkan susu Sapi yang sudah di larutkan dengan NaOH /Soda Api kedalam gelas kimia yang berisi larutan Mentega putih, aduk sampai merata dan tercampur sempurna. 
6. Tetapi sebelum itu lakukan pengecekkan persamaan suhu antara kedua adonan sabun tadi. Usahakan mempunyai suhu yang mendekati sama. kalau tidak sama toleransinya bisa sampai 10 derajat tidak apa-apa,
7. Kemudian setelah dicampurkan adonan tersebut aduk sampai merata dan tercampur sempurna, sampai berbentuk adonan seperti Hand Body kira-kira selama 1 jam lebih (tergantung kecepatan mengocoknya), 
8. Setelah jadi, tuangkan adonan sabun yang telah di kocok selama 1 jam lebih kedalam cetakkan yang sudah disediakan,
9. Hasil cetakkan masukkan kedalam Freezer selama 24 jam sampai 48 jam kira-kira 2 hari, Setelah itu, keluarkan sabun dari cetakkan tersebut. sabun dapat digunakan setelah 1-2 minggu


III. Pembahasan 
a. Pengertian Sabun
     Sabun adalah senyawa kimia yang dihasilkan dari reaksi lemak atau minyak dengan Alkali. Sabun juga merupakan garam-garam Monofalen dari Asam Karboksilat dengan rumus umumnya RCOOM, R adalah rantai lurus (alifatik) panjang dengan jumlah atom C bervariasi, yaitu antara C12-C18 dan M adalah kation dari kelompok alkali atau Ion Ammonium.
     Sabun murni terdiri dari 95% sabun aktif dan sisanya air, gliserin, garam dan impurity lain. Perubahan lemak hewan (misalnya lemak kambing, Tallow) menjadi sabun menurut cara kuno adalah dengan cara memanaskan dengan abu kayu (bersifat basa), hal ini telah dilakukan sejak 2300 tahun yang lalu oleh bangsa Romawi kuno.

b. Sifat – sifat sabun yaitu : 
  • Sabun bersifat basa. Sabun adalah garam alkali dari asam lemak suku tinggi sehingga akan dihidrolisis parsial oleh air. Karena itu larutan sabun dalam air bersifat basa. CH3(CH2)16COONa + H2O CH3(CH2)16COOH + NaOH 
  • Sabun menghasilkan buih atau busa. Jika larutan sabun dalam air diaduk maka akan menghasilkan buih, peristiwa ini tidak akan terjadi pada air sadah. Dalam hal ini sabun dapat menghasilkan buih setelah garam-garam Mg atau Ca dalam air mengendap. CH3(CH2)16COONa + CaSO4 Na2SO4 + Ca(CH3(CH2)16COO)2 
  • Sabun mempunyai sifat membersihkan. Sifat ini disebabkan proses kimia koloid, sabun (garam natrium dari asam lemak) digunakan untuk mencuci kotoran yang bersifat polar maupun non polar, karena sabun mempunyai gugus polar dan non polar. Molekul sabun mempunyai rantai hydrogen CH3(CH2)16 yang bertindak sebagai ekor yang bersifat hidrofobik (tidak suka air) dan larut dalam zat organic sedangkan COONa+ sebagai kepala yang bersifat hidrofilik (suka air) dan larut dalam air.
 c. Klasifikasi Sabun
      Berdasarkan penggunaannya, sabun dapat diklasifikasi menjadi 3 jenis, yaitu: 
  • Laundry Soap: untuk sabun cuci. 
  • Toilet soap: yang digunakan untuk mandi dan perawatan kulit, termasuk juga disini medicine soap. 
  • Textile soap, yang digunakan untuk pada proses scouring textile, proses degumming sutera dll.
 d. Kegunaan Sabun
      Sebagian besar kegunaan sabun di dalam kehidupan sehari-hari adalah bahan pencuci. Sedangkan di dalam industri kosmetik sabun memiliki kegunaan tergantung pada komposisi yang terkandung di dalam sabun itu sendiri.


Sumber dari:
- http://drozindonesiatranstv.blogspot.com/2014/12/dr-oz-cara-membuat-sabun-susu-kambing.html
 - http://nadyaputri13.blogspot.com/2012/12/judul-laporan-hasil-praktikum-pembuatan.html

Cara Membuat Sabun Susu Sapi


Assalamu'alaikum... :)
      Kali ini saya akan memposting cara membuat sabun susu sapi, saya buat sabun pas lagi praktek dan Alhamdulillah berhasil ;), jangan lupa perlengkapan Masuk lab ;) K3LH-nya lho inget. Langsung saja pada topiknya,
Alat dan bahan-bahannya:
  • Susu Sapi 80 gram
  • Minyak Zaitun 30 ml
  • Minyak Kelapa 35 ml
  • Mentega Putih 80 gram 
  • Soda api/NaOH 20 gram (jika NaOH larutkan dalam 80 ml air)
  • Gelas Kimia/Mangkuk
  • Sendok/Batang pengaduk
  • Kaki 3, kawat kasa, pembakar spirtus dan korek api (bisa juga menggunakan kompor
  • Termometer 
  • Pipet tetes
  • Gelas ukur
  • Aquadestilata
Prosedur:
  • Masukkan minyak kelapa, minyak zaitun, dan mentega putih. Jangan dipaksakan mentega putih ini untuk cepat lumer atau mencair, biarkan saja, nanti juga akan cair dengan sendirinya dan tentunya butuh waktu yg agak lama untuk memperoleh hasil tersebut, 
  • Sambil menunggu mentega putih mencair, kita lanjut dengan fase berikutnya yaitu proses saponisasi antara susu sapi dan soda api/NaOH, 
  • Proses menyatukan susu sapi dengan soda api/NaOH memakan waktu selama 1 jam, (lama kan? :D) 
  • Siapkan beaker glass/gelas kimia/mangkuk yang berisi susu sapi, masukkan soda api/NaOH (jika memakai NaOH cairkan terlebih dahulu yahh) sedikit demi sedikit. Aduk secara rata dan pelan pelan, nanti soda api akan bereaksi dengan lemak dari susu sapi, 
  • Nah setelah 1 jam larutan mentega putih tadi sudah mencair, angkat larutan mentega putih tadi dan tuangkan kedalam mangkuk yang sudah berisi campuran susu sapi dan soda api/NaOH, 
  • Sebelum itu lakukan pengecekan persamaan suhu antara kedua adonan sabun tadi. Usahakan mempunyai suhu yang mendekati sama. Kalau tidak sama toleransinya bisa sampai 10 derajat tidak apa - apa, 
  • Campurkan minyak zaitun (adonan larutan mentega putih) ke dalam adonan susu sapi dengan cara diblender sampai membentuk kental, bisa juga dengan cara pengandukan biasa (menggunakan tangan) ± 1 jam (saran saya menggunakan pengadukan biasa karena jika menggunakan blender, saat pembuatan sabun sudah tercampur soda api/NaOH) 
  • Setelah jadi, tuangkan adonan sabun kedalam cetakan. 
  • Hasil cetakan masukkan ke dalam freezer 24 jam sampai 48 jam. 
  • Setelah 48 jam, keluarkan sabun dari cetakannya. 
  • Sabun belum bisa digunakan, tunggu 1 - 2 minggu kemudian untuk bisa dipakai.


      
    Catatan:
    Kalian bisa menambahkan pewangi, pewarna biar tambah cantik atau bisa juga menambahkan pengawet untuk bisa bertahan lama, pastikan pengawet tersebut aman selama penggunaan sabun :)

           Jazakumullah udah baca blog saya Afwan jika ada salah kata atau cara penulisannya maklum masih belajar, semoga bermanfaat yahh :)